Rusia buka suara terkait pembunuhan Saif al-Islam Khadafi, putra mantan pemimpin Libya Muammar Khadafi. Moskow mengecam keras insiden tersebut dan mendesak dilakukannya penyelidikan menyeluruh guna mengungkap para pelaku.
“Kami mengecam keras kejahatan ini. Kami berharap akan dilakukan penyelidikan menyeluruh dan para pelaku dibawa ke hadapan hukum,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, seperti dikutip AFP.
Sementara itu, jaksa Libya pada Rabu (4/2) menyatakan telah membuka penyelidikan atas kasus pembunuhan tersebut. Otoritas setempat juga mengirimkan tim forensik ke Zintan, wilayah barat laut Libya, lokasi terjadinya peristiwa.
Pengacara Saif al-Islam, Marcel Ceccaldi, mengatakan kliennya tewas setelah diserang oleh empat orang tak dikenal di kediamannya di Zintan pada Selasa.
“Dia dibunuh sekitar pukul 14.00 di Zintan, di rumahnya, oleh empat orang komando,” kata Ceccaldi kepada AFP.
Laporan lain menyebutkan Saif sempat melakukan perlawanan terhadap para penyerang. Kelompok tersebut diduga lebih dulu menonaktifkan kamera CCTV sebelum melancarkan serangan guna menghilangkan jejak.
Saif al-Islam, yang berusia 53 tahun, selama ini dipandang oleh sebagian kalangan sebagai figur yang berpotensi melanjutkan pengaruh politik keluarga Khadafi di Libya.
Ayahnya, Muammar Khadafi, digulingkan dan tewas pada 2011 setelah operasi militer yang dipimpin Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), yang mengakhiri lebih dari empat dekade kekuasaannya di Libya.
Pada 2021, jaksa Libya sempat mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Saif al-Islam terkait dugaan keterkaitannya dengan kelompok bayaran Rusia, Wagner, sebagaimana dilaporkan BBC. Kelompok Wagner sendiri kemudian dibubarkan dan digantikan oleh Africa Corps yang berada di bawah dukungan negara.


















