Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Kesehatan

Tragedi Bocah 10 Tahun Gantung Diri, Psikolog Ungkap Faktor Anak Nekat Akhiri Hidup

26
×

Tragedi Bocah 10 Tahun Gantung Diri, Psikolog Ungkap Faktor Anak Nekat Akhiri Hidup

Share this article
Example 468x60

Tragedi yang menimpa seorang bocah di Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi pengingat akan rapuhnya kondisi psikologis anak, terutama ketika menghadapi tekanan hidup di tengah keterbatasan ekonomi keluarga.

Seorang siswa kelas IV sekolah dasar (SD) berinisial YBR (10) ditemukan meninggal dunia akibat bunuh diri di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT. Peristiwa tersebut meninggalkan duka mendalam bagi keluarga sekaligus memicu keprihatinan berbagai pihak.

Example 300x600

Sebelum kejadian, YBR diduga merasa kecewa setelah permintaannya untuk dibelikan buku tulis dan pulpen tidak dapat dipenuhi. Sang ibu menolak permintaan tersebut karena kondisi ekonomi keluarga yang tengah sulit.

“Menurut pengakuan ibunya, korban sempat meminta uang untuk membeli buku tulis dan pulpen sebelum kejadian,” ujar Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa, dikutip dari detikBali, Rabu (4/2/2026).

Menanggapi peristiwa tersebut, psikolog klinis Anna Surti Ariani atau yang akrab disapa Nina menekankan bahwa kasus bunuh diri pada anak tidak bisa dipandang dari satu faktor saja. Ia menyebut banyak pelajaran penting yang dapat diambil dari kasus anak-anak yang memiliki pemikiran atau melakukan percobaan bunuh diri.

Menurut Nina, dalam banyak pemberitaan sering kali faktor ekonomi dianggap sebagai penyebab utama. Namun, ia menegaskan keputusan seorang anak untuk mengakhiri hidup hampir selalu dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan.

“Yang perlu kita cermati, tidak mungkin penyebab bunuh diri itu hanya satu faktor saja,” ujar Nina dalam acara detikSore, Rabu (4/2/2026).

Ia menambahkan, kecil kemungkinan seorang anak mengambil keputusan ekstrem hanya karena satu kejadian, seperti penolakan permintaan alat sekolah.

“Tidak mungkin hanya karena faktor ekonomi, apalagi hanya ditolak permintaan alat sekolah, lalu seorang anak langsung memutuskan bunuh diri,” katanya.

Nina menjelaskan, biasanya terdapat akumulasi masalah yang dialami anak dalam waktu yang relatif bersamaan. Misalnya, tekanan di sekolah seperti perundungan karena tidak memiliki perlengkapan belajar, yang kemudian diperparah dengan situasi di rumah.

Tekanan emosional juga bisa muncul ketika anak sering dimarahi atau tidak memiliki ruang aman untuk mengekspresikan perasaan dan kesulitannya.

“Anak bisa merasa hidupnya selalu gagal, selalu dianggap kurang, tidak punya apa-apa, dan tidak pernah cukup baik,” tuturnya.

Menurut Nina, ketika berbagai tekanan tersebut menumpuk dalam waktu yang singkat, anak bisa bertindak secara impulsif tanpa benar-benar memahami konsekuensi dari tindakannya.

“Akumulasi masalah yang sangat banyak dalam waktu yang relatif sama itulah yang bisa mendorong anak melakukan percobaan bunuh diri secara impulsif,” pungkasnya.

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *