Usia 27 tahun kerap dianggap sebagai fase kehidupan yang mulai stabil—karier bertumbuh dan rencana masa depan mulai disusun. Namun, fase itu justru berubah menjadi titik balik bagi Sisca Febriane (29), seorang wanita asal Jakarta Selatan, setelah dokter mendiagnosis dirinya mengidap tumor otak.
Sisca mengetahui kondisi tersebut pada akhir 2023, saat usianya masih 27 tahun. Kala itu, tidak ada gejala berat yang langsung mengarah pada penyakit serius. Keluhan yang dirasakan hanya pusing berulang, yang ia anggap sebagai dampak kelelahan dan gangguan mata.
“Awalnya sering pusing. Aku memang punya mata silinder dan kadang terasa agak jereng, jadi sama sekali nggak kepikiran ke arah yang aneh-aneh,” ujar Sisca kepada detikcom, Kamis (5/2/2026).
Rasa pusing yang tak kunjung membaik akhirnya membuat Sisca memeriksakan diri ke rumah sakit mata. Dari sanalah dokter menyarankan pemeriksaan lanjutan menggunakan MRI (Magnetic Resonance Imaging).
“Habis MRI, baru ketahuan ada tumor dan ukurannya sudah cukup besar. Itu juga yang bikin penglihatanku jadi agak jereng,” ungkapnya.
Tumor di Belakang Otak dan Keputusan Operasi
Tumor tersebut diketahui berada di bagian belakang otak Sisca. Meski tidak mengganggu fungsi kognitif dan daya ingat, posisinya cukup berisiko karena hampir menempel pada batang otak.
“Kata dokter, itu murni kena saraf. Hampir menempel di batang otak, yang notabene pusat banyak fungsi saraf,” jelasnya.
Tak ingin gegabah, Sisca sempat mencari second opinion hingga ke Malaysia dengan harapan menemukan alternatif selain operasi. Namun, hasilnya tetap sama.
“Aku sempat berharap bisa pakai gamma knife, tapi ternyata sudah tidak memungkinkan karena tumornya terlalu besar. Mau di mana pun tetap harus operasi,” katanya.
Sebagai informasi, gamma knife merupakan metode pengobatan non-invasif berakurasi tinggi untuk menangani kelainan otak tertentu, namun hanya efektif pada tumor berukuran kecil.
Sisca akhirnya menjalani operasi pengangkatan tumor pada 24 Maret 2024. Pascatindakan, kondisinya sempat kritis. Ia mengalami koma selama dua pekan dan tumor tidak dapat diangkat sepenuhnya.
Dampaknya, Sisca kehilangan kendali pada sebagian tubuhnya dan mengalami kesulitan berjalan serta beraktivitas seperti sebelumnya.
Gaya Hidup Jadi Faktor Pemicu
Sisca menyadari tumor otak dapat dipicu banyak faktor, mulai dari genetik hingga lingkungan. Namun dalam kasusnya, ia menduga gaya hidup berperan besar.
“Kalau diingat-ingat, dulu aku sering banget minum manis-manis, kopi, boba. Bisa hari ini kopi, besok boba,” tuturnya.
Ia bahkan mengaku pernah mengonsumsi minuman boba hingga lima gelas dalam sehari saat menghadiri festival.
Pola kerja yang tidak sehat juga memperburuk kondisi. Sisca kerap bekerja sejak pagi hingga dini hari.
“Berangkat jam 8 pagi, pulang bisa jam 1, 2, bahkan jam 3 pagi karena meeting,” katanya.
Saat ini, Sisca masih menjalani rehabilitasi secara rutin untuk memulihkan fungsi saraf dan otot, terutama di bagian bawah tubuh.
“Sekarang semuanya sudah bisa digerakkan, tapi masih terbatas,” tutupnya.


















