Maraknya kasus penipuan digital mendorong lahirnya platform gratis berbasis web tanya.fadli.id yang dirancang untuk membantu masyarakat mengenali potensi penipuan sejak awal.
Platform tersebut dikembangkan oleh Miftahul Fadli Muttaqin, dosen Teknik Informatika Universitas Pasundan, dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Pengguna cukup mengakses situs, lalu mengunggah tangkapan layar, menyalin percakapan mencurigakan, atau menjelaskan kronologi kejadian. Sistem kemudian menganalisis pola bahasa, memeriksa tautan berbahaya, serta mencocokkannya dengan basis data modus penipuan terbaru.
Hasilnya ditampilkan dalam skor risiko 0–100 disertai rekomendasi tindakan.
“Aplikasi ini dibuat sebagai alat bantu sebelum seseorang mengambil keputusan agar tidak bertindak dalam kondisi panik,” ujar Fadli, Rabu (18/2).
Utamakan Keamanan Data
Sejak dirilis 1 Januari 2026, situs tersebut mencatat ribuan kunjungan setiap hari. Fadli menegaskan perlindungan data menjadi prioritas: sistem tidak mempublikasikan data pengguna secara otomatis, dan informasi sensitif akan disensor bila pengguna memilih berbagi pengalaman.
Ia menambahkan teknologi seharusnya melindungi pengguna, bukan menambah risiko kebocoran data.
Ancaman Penipuan Makin Serius
Penipuan digital terus berkembang, mulai dari pelaku yang mengaku pihak bank, kurir, hingga investasi bodong dengan janji keuntungan cepat. Pelaku biasanya memanfaatkan teknik rekayasa sosial (social engineering) melalui pesan yang tampak resmi dan mendesak.
Data Indonesia Anti-Scam Centre mencatat sepanjang November 2024–Desember 2025 terdapat 411 ribu laporan penipuan digital dengan total kerugian mencapai Rp9,1 triliun.
Dari jumlah tersebut, hanya sekitar Rp383,6 miliar atau kurang dari 5 persen dana yang berhasil diselamatkan. Sebanyak 85 persen korban baru melapor lebih dari 12 jam setelah kejadian, ketika dana sudah sulit dilacak.
Kondisi ini menunjukkan literasi digital masyarakat masih perlu ditingkatkan, terlebih dengan munculnya teknologi seperti deepfake yang membuat penipuan semakin sulit dikenali.















