Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat dan disebut mendekati konflik terbuka. Eskalasi memuncak setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) meluncurkan gelombang serangan balasan besar-besaran ke Israel serta sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan.
Serangan bertajuk Operasi True Promise 4 itu diklaim sebagai respons langsung atas serangan sebelumnya terhadap Iran.
Korban Militer AS dan Serangan ke Israel
Komando Pusat AS pada Minggu (1/3/2026) melaporkan tiga personel militer Amerika tewas dan lima lainnya mengalami luka berat akibat serangan yang menargetkan pangkalan operasional di Timur Tengah.
IRGC juga mengklaim menyasar fasilitas militer di Bahrain (Armada Kelima), Qatar, dan Uni Emirat Arab yang dinilai mendukung operasi terhadap Iran.
Di Israel, sejumlah kota diguncang dentuman rudal. Di Beit Shemesh, dekat Yerusalem, sebuah rudal balistik dilaporkan menghantam kawasan permukiman padat penduduk hingga merusak sinagoge dan bunker perlindungan di bawahnya.
Layanan darurat Magen David Adom dan Kepolisian Israel menyebut sembilan orang tewas dan 28 lainnya luka-luka. Petugas menggambarkan situasi di lokasi sebagai kacau, dengan rumah hancur, kendaraan terbakar, dan puing bangunan berserakan. Tim penyelamat masih melakukan pencarian di reruntuhan.
Netanyahu Disebut Berlindung
Di tengah tekanan serangan, perhatian tertuju pada kondisi pejabat tinggi Israel. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sempat muncul dari atap markas militer IDF Kirya di Tel Aviv dan menyebut situasi sebagai “hari-hari yang menyakitkan” bagi negaranya.
Ia juga menegaskan operasi militer terhadap Teheran akan ditingkatkan.
Namun kantor berita Tasnim yang mengutip IRGC mengklaim serangan presisi Iran ke Tel Aviv dan Haifa memaksa pejabat senior Israel, termasuk Netanyahu, berlindung di bunker bawah tanah. Klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen, tetapi menunjukkan tingginya ketegangan di level pemerintahan.
Iran menyatakan serangan itu sebagai balasan atas operasi dua hari sebelumnya yang diklaim menewaskan lebih dari 200 orang di negaranya, termasuk korban anak-anak di Provinsi Hormozgan.
Diplomasi Terancam Gagal
Konflik pecah saat negosiasi nuklir tidak langsung antara Teheran dan Washington di Jenewa yang dimediasi Oman tengah berlangsung. Intensitas serangan militer kini berpotensi menggagalkan jalur diplomasi serta mulai mengganggu jalur penerbangan dan distribusi energi di kawasan.
Dampak ke Jemaah Umrah Sulsel
Situasi keamanan berdampak langsung pada perjalanan umrah, termasuk jemaah asal Sulawesi Selatan. Sejumlah penerbangan ke dan dari Timur Tengah dilaporkan dibatalkan sementara.
Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Sulsel, Ikbal Ismail, menyatakan pembatalan itu memengaruhi jemaah yang hendak berangkat maupun pulang. Pendataan jemaah saat ini dikoordinasikan pemerintah pusat melalui KBRI.
Untuk sementara seluruh jadwal keberangkatan menuju Mekkah dan Madinah ditunda sambil menunggu kondisi keamanan membaik. Pemerintah daerah disebut terus berkoordinasi dengan pusat guna memastikan keselamatan jemaah.


















