Mantan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) menyatakan siap bekerja keras dan “mati-matian” untuk memenangkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Pernyataan tersebut dinilai sebagai ajang uji kesaktian politik Jokowi setelah tak lagi menjabat sebagai presiden.
Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI) Adi Prayitno mengatakan, setidaknya ada dua pandangan publik terkait peran Jokowi saat ini. Pertama, Jokowi masih dianggap memiliki pengaruh kuat untuk meloloskan PSI ke parlemen. Kedua, muncul pula anggapan bahwa pengaruh Jokowi sudah melemah karena tidak lagi memegang kekuasaan formal.
“Ketika Jokowi siap total membesarkan PSI, itu semacam kesiapan uji kesaktian Jokowi setelah tidak lagi menjadi presiden dan bukan bagian dari PDIP. Kalau PSI lolos, Jokowi akan disebut masih sakti. Sebaliknya, jika gagal, kritik pasti datang bertubi-tubi,” ujar Adi kepada wartawan, Minggu (1/2/2026).
Menurut Adi, berhasil atau tidaknya Jokowi mengerek elektabilitas PSI sangat bergantung pada kerja politik di lapangan. Ia menegaskan, politik pada akhirnya adalah soal kemampuan meyakinkan pemilih di akar rumput.
“PSI jelas mendapat suntikan semangat karena Jokowi menyatakan siap mati-matian. Tinggal diuji, apakah pengaruh Jokowi masih kuat setelah tidak lagi menjabat presiden dan berpisah dengan PDIP. Kuncinya tetap kerja lapangan,” jelasnya.
Adi menilai, sikap Jokowi yang terang-terangan berada di barisan PSI memiliki sisi positif sekaligus risiko. Di satu sisi, Jokowi bisa menjadi magnet elektoral, namun di sisi lain, PSI harus mampu mengelola potensi resistensi publik terhadap figur Jokowi.
“PSI perlu menekan resistensi terhadap Jokowi dan pada saat yang sama menjual sisi positifnya,” kata Adi.
Ia menambahkan, tantangan utama PSI adalah memperluas basis pemilih. Selama ini, PSI dinilai identik dengan pemilih perkotaan, sementara pemilih di pedesaan justru mendominasi jumlah suara nasional.
“PR terbesar PSI adalah bagaimana menembus pemilih desa yang jumlahnya sangat mayoritas. Pendekatan langsung ke rakyat bawah jauh lebih menentukan dibanding sekadar wacana,” ujarnya.
Adi juga menyinggung Pemilu 2024 lalu, di mana PSI sebenarnya telah mulai mengapitalisasi figur Jokowi, salah satunya melalui penggunaan atribut kampanye bertuliskan ‘PSI Partai Jokowi’. Namun, langkah tersebut dinilai belum maksimal.
“PSI terkesan malu-malu mengapitalisasi Jokowi. Efeknya, PSI tetap tidak lolos ke parlemen,” lanjutnya.
Ia menegaskan, dukungan terbuka Jokowi terhadap PSI merupakan pertaruhan politik besar. “Kalau PSI lolos ke parlemen, Jokowi akan disanjung dan disebut masih sakti. Tapi kalau gagal, kritik akan mengarah pada anggapan Jokowi sudah kehilangan pengaruh,” pungkas Adi.
Sebelumnya, Jokowi dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PSI di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (31/1/2026), menegaskan kesiapannya untuk memenangkan PSI. Jokowi menyatakan siap bekerja keras demi memperkuat partai tersebut.
“Kekuatan partai politik itu ada pada struktur yang kuat dan benar-benar hidup, yang bisa bekerja sampai ke akar rumput dan menyentuh masyarakat terbawah,” kata Jokowi.
Jokowi juga mengaku siap turun langsung ke berbagai daerah jika dibutuhkan. “Kalau diperlukan saya harus datang, saya masih sanggup. Datang ke provinsi, kabupaten/kota, bahkan sampai kecamatan,” tegasnya.


















