Amerika Serikat dilaporkan menyiagakan rudal-rudal pertahanan di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar, di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.
Berdasarkan citra satelit yang dianalisis Reuters, sejumlah rudal milik Washington terlihat sudah dipasang pada truk peluncur. Kondisi itu menandakan persenjataan tersebut siap dimobilisasi kapan saja jika situasi memburuk.
Analis citra forensik dari Contested Ground, William Goodhind, menyebut foto satelit dari awal Februari dan Januari memperlihatkan peningkatan signifikan jumlah alutsista Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Di pangkalan Al Udeid, sekitar 10 rudal Patriot terpantau terpasang di Heavy Expanded Mobility Tactical Trucks (HEMTT) M983 pada awal Februari.
“Keputusan itu membuat Patriot memiliki mobilitas jauh lebih besar. Artinya, sistem ini bisa dipindahkan ke lokasi alternatif atau diposisikan ulang dengan lebih cepat,” ujar Goodhind, dikutip dari Reuters.
Penempatan rudal pada kendaraan bergerak, bukan peluncur semi-statis, mengindikasikan kesiapan AS untuk merespons cepat jika perang pecah. Rudal dapat segera digunakan atau dipindahkan apabila ada ancaman serangan.
Trump Siap Serang Jika Negosiasi Nuklir Gagal
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menegaskan armada perang Washington siap melancarkan serangan militer terhadap Iran apabila negosiasi nuklir gagal mencapai kesepakatan.
Trump juga disebut membuka peluang untuk mengerahkan armada tambahan guna meningkatkan tekanan terhadap Teheran.
Saat ini, kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln telah berada di perairan Timur Tengah sejak Januari lalu.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan bahwa serangan apa pun ke wilayah Iran akan dibalas, termasuk dengan menyerang pangkalan-pangkalan AS.
Al Udeid Jadi Pangkalan Terbesar AS di Kawasan
Selain di Qatar, Amerika Serikat memiliki sejumlah pangkalan lain di Timur Tengah, antara lain di Irak, Yordania, Kuwait, Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab, Oman, dan Turki.
Pangkalan Al Udeid merupakan salah satu fasilitas militer terbesar AS di kawasan. Pangkalan ini juga pernah menjadi sasaran Iran saat eskalasi konflik Iran-Israel pada Juni tahun lalu.
Hingga kini, juru bicara Pentagon belum memberikan komentar terkait laporan tersebut.
Iran Perkuat Postur Militer dan Persediaan Rudal
Sejak perang 12 hari terakhir, Iran disebut menambah stok rudal serta memperkuat postur militernya, situasi yang membuat Israel meningkatkan kewaspadaan.
Sejumlah laporan media juga menyebut Israel mendorong AS untuk menyerang Iran, namun Washington masih memilih mengedepankan jalur diplomasi.
Iran diketahui memiliki sejumlah kompleks rudal bawah tanah, termasuk di sekitar Teheran, Kermanshah, Semnan, serta wilayah dekat pantai Teluk.
AS Sebar Pesawat Tempur dan Logistik di Timur Tengah
Selain menyiagakan rudal, AS juga dilaporkan mengerahkan banyak pesawat ke berbagai pangkalan di Timur Tengah.
Di Al Udeid, citra satelit pada 1 Februari menunjukkan keberadaan pesawat pengintai RC-135, tiga pesawat C-130 Hercules, 18 pesawat KC-135 Stratotanker, serta tujuh pesawat C-17. Sebagai perbandingan, pada 17 Januari hanya terpantau 14 pesawat Stratotanker dan dua pesawat C-17.
Di pangkalan Muwaffaq, Yordania, citra pada 2 Februari memperlihatkan 17 pesawat tempur F-15E, delapan pesawat A-10 Thunderbolt, empat pesawat C-130, serta empat helikopter yang belum teridentifikasi.
Di lokasi lain di Muwaffaq, terpantau pula sebuah C-17, sebuah C-130, serta empat pesawat perang elektronik EA-18G Growler. Pada 25 Januari, pesawat-pesawat tersebut belum terlihat di area yang sama.
Sementara itu, di pangkalan Prince Sultan, Arab Saudi, citra pada 2 Februari memperlihatkan sebuah pesawat C-5 Galaxy dan sebuah pesawat C-17. Pada citra 6 Desember, di lokasi yang sama terlihat lima pesawat yang diduga C-130.
Peningkatan aktivitas udara juga terlihat di pangkalan Diego Garcia di Samudra Hindia, serta di pangkalan Dukhan, Oman, berdasarkan citra satelit yang dibandingkan antara akhir Januari hingga awal Februari.


















