Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita membunyikan alarm peringatan terkait kinerja penjualan otomotif nasional yang mulai mendapat tekanan dari negara tetangga, Malaysia. Peringatan tersebut disampaikan meski Indonesia saat ini masih tercatat sebagai pasar otomotif terbesar di kawasan ASEAN.
Agus mengungkapkan, total penjualan mobil di Indonesia sepanjang 2024 mencapai sekitar 865 ribu unit. Capaian tersebut menempatkan Indonesia di posisi teratas penjualan otomotif ASEAN. Namun, keunggulan tersebut dinilai tidak lagi sepenuhnya aman.
Ia mengaku menerima laporan dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) yang menunjukkan penjualan otomotif Malaysia terus mengalami peningkatan signifikan. Bahkan, pasar mobil Negeri Jiran kini disebut telah mendekati capaian Indonesia dan berpotensi melampauinya.
“Saya mendengar laporan dari teman-teman Gaikindo bahwa penjualan otomotif di Malaysia itu mungkin sudah mendekati penjualan otomotif di Indonesia atau bahkan mungkin juga sudah melewati. Ini merupakan alarm bagi kita, bagi Indonesia,” ujar Agus saat menghadiri pameran Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026 di Jakarta, Kamis (5/2).
Data Malaysia Automotive Association (MAA) mencatat penjualan mobil di Malaysia sepanjang 2025 mencapai 820.752 unit, naik 0,5 persen dibandingkan 2024 yang berada di angka 816.747 unit.
Sementara itu, penjualan mobil ritel di Indonesia pada 2025 tercatat sekitar 833 ribu unit. Namun, pada periode Januari–November 2025, penjualan Malaysia telah menembus sekitar 720 ribu unit, sedikit lebih tinggi dibanding Indonesia yang berada di kisaran 710 ribu unit pada periode yang sama. Dari sisi wholesales, penjualan Indonesia tercatat sebesar 803.687 unit atau turun 7,2 persen.
Agus menegaskan kondisi tersebut harus disikapi secara serius oleh seluruh pemangku kepentingan. Pemerintah, pelaku industri, hingga lembaga pembiayaan diminta untuk merumuskan langkah strategis guna menjaga daya saing industri otomotif nasional.
“Para stakeholders harus bisa mencari dan merumuskan langkah-langkah yang tepat, melakukan mitigasi agar Indonesia bisa kembali menjadi negara dengan penjualan otomotif tertinggi di ASEAN,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi dan pembagian beban (burden sharing) antara pemerintah, industri, dan sektor perbankan. Menurutnya, kesamaan visi akan membantu menghadapi berbagai tantangan industri otomotif ke depan.
“Kalau kita sudah sama-sama memiliki visi, saya kira tantangan seberat apa pun bisa kita selesaikan dengan baik sehingga target industri otomotif dapat tercapai,” ujarnya.
Selain itu, Agus turut menyinggung rendahnya tingkat kepemilikan mobil di Indonesia yang masih berada di angka sekitar 99 unit per 1.000 penduduk. Meski demikian, kondisi tersebut justru dinilai sebagai peluang besar mengingat populasi Indonesia yang sangat besar.


















