Istilah “masuk angin” atau “angin duduk” kerap digunakan masyarakat untuk menggambarkan kondisi tubuh yang tidak enak, termasuk nyeri dada. Namun, keluhan tersebut sebenarnya bisa menjadi gejala awal serangan jantung yang membutuhkan penanganan cepat.
Spesialis jantung dan pembuluh darah, dr Yislam Aljaidi, SpJP, FIHA, mengatakan banyak orang masih keliru menilai tanda-tanda serangan jantung sebagai “masuk angin”.
Menurutnya, keluhan seperti sakit punggung, meriang, nyeri dada, hingga keringat dingin sering dianggap sepele. Padahal, gejala itu bisa mengarah pada kondisi darurat medis.
“Karena keluhannya nyeri dada tidak nyaman, bisa menjalar ke bahu, ke leher, ke punggung. Ditambah seolah-olah mirip gejala masuk angin,” kata dr Yislam dalam temu media di Cibubur, Rabu (11/2/2026).
Ia menjelaskan, kondisi tersebut sering disebut “angin duduk” karena masyarakat biasanya langsung memilih kerokan sebagai pertolongan pertama. Padahal, tindakan itu justru bisa membahayakan.
“Makanya dianggap angin duduk karena saat itu dia dikerokin saja. Sementara jantung itu butuh waktu yang critical, cepat dibawa ke rumah sakit,” ujarnya.
Kerokan Bisa Buat Pasien Kehilangan Waktu Emas
dr Yislam menegaskan bahaya terbesar kerokan saat serangan jantung bukan pada luka di kulit, melainkan hilangnya waktu yang sangat berharga untuk menyelamatkan nyawa.
Serangan jantung terjadi akibat adanya sumbatan pada pembuluh darah jantung. Jika sumbatan menjadi total, pasien dapat mengalami henti jantung dan berujung meninggal dunia.
“Serangan jantung itu butuh waktu yang critical. Sementara pasien asyik dikerokin, pembuluh darahnya bisa tertutup total yang memicu henti jantung dan meninggal dunia,” tegasnya.
Jika pasien segera dibawa ke rumah sakit, dokter dapat memberikan obat pengencer darah dosis tinggi atau melakukan tindakan kateterisasi jantung untuk memasang ring guna membuka sumbatan.
Kerokan Tidak Bisa Mengatasi Sumbatan Jantung
dr Yislam juga menekankan kerokan tidak memberikan manfaat medis untuk mengatasi sumbatan pembuluh darah jantung. Rasa nyaman setelah dikerok hanya bersifat sugesti.
“Kalau dikerok, pembuluh darah yang di dalam tetap tersumbat. Kerokan itu cuma persepsi masing-masing orang dan sebenarnya sugesti saja,” jelasnya.
Selain itu, kerokan juga berisiko menyebabkan peradangan kulit hingga infeksi jika alat yang digunakan tidak steril. Karena alasan tersebut, dokter jantung tidak pernah merekomendasikan kerokan untuk orang yang mengalami gejala serangan jantung.


















